Salim berbagi…. tempat belajar dan berinteraksi….


MENZALIMI ORANG LAIN
April 8, 2011, 2:22 AM
Filed under: Hikmah

Dikisahkan, ada seorang pedagang yang kaya raya dan berpengaruh di kalangan masyarakat. Kegiatannya berdagang mengharuskan dia sering ke luar kota. Suatu saat, karena pergaulan yang salah, dia mulai berjudi dan bertaruh.

Mula-mula kecil-kecilan, tetapi karena tidak dapat menahan nafsu untuk menang dan mengembalikan kekalahannya, si pedagang semakin gelap mata, dan akhirnya uang hasil jerih payahnya selama ini banyak terkuras di meja judi. Istri dan anak-anaknya telantar dan mereka jatuh miskin.

Orang luar tidak ada yang tahu tentang kebiasaannya berjudi, maka untuk menutupi hal tersebut, dia mulai menyebar fitnah, bahwa kebangkrutannya karena orang kepercayaan –sahabatnya- mengkhianati dia dan menggelapkan banyak uangnya. Kabar itu semakin hari semakin menyebar, sehingga sahabat yang setia itu jatuh sakit. Mereka sekeluarga sangat menderita, disorot dengan pandangan curiga oleh masyarakat di sekitarnya dan dikucilkan dari pergaulan.

Si pedagang tidak pernah mengira, dampak perbuatannya demikian buruk. Dia bergegas datang menengok sekaligus memohon maaf kepada si sahabat “Sobat, aku mengaku salah! Tidak seharusnya aku menimpakan perbuatan burukku dengan menyebar fitnah kepadamu. Sungguh, aku menyesal dan minta maaf. Apakah ada yang bisa aku kerjakan untuk menebus kesalahan yang telah kuperbuat?”

Dengan kondisi yang semakin lemah, si sahabat berkata, “Ada dua permintaanku. Pertama, tolong ambillah bantal dan bawalah ke atap rumah. Sesampainya di sana, ambillah kapas dari dalam bantal dan sebarkan keluar sedikit demi sedikit.”

Walaupun tidak mengerti apa arti permintaan yang aneh itu, demi menebus dosa, segera dilaksanakan permintaan tersebut. Setelah kapas habis disebar, dia kembali menemui laki-laki yang sekarat itu.

“Permintaanmu telah aku lakukan, apa permintaanmu yang kedua?”

“Sekarang, kumpulkan kapas-kapas yang telah kau sebarkan tadi,” kata si sahabat dengan suara yang semakin lemah.

Si pedagang terdiam sejenak dan menjawab dengan sedih, “Maaf sobat, aku tidak sanggup mengabulkan permintaanmu ini. Kapas-kapas telah menyebar ke mana-mana, tidak mungkin bisa dikumpulkan lagi.”

“Begitu juga dengan berita bohong yang telah kau sebarkan, berita itu takkan berakhir hanya dengan permintaan maaf dan penyesalanmu saja,” kata si sakit.

Demikian Andrie Wongso berkisah.

 

Kawan,

Kezaliman- apa pun bentuknya- yang telah kita lakukan terhadap seseorang, tidak cukup dengan penyesalan dan permintaan maaf saja. Buah dari kezaliman itu, tidak serta merta berakhir dengan permintaan maaf. Kepedihan yang timbul karenanya, melekat dalam waktu yang lama. Lagi pula, akibat dari perbuatan zalim kita itu, tidak hanya mengenai seorang kawan yang kita zalimi, melainkan juga, keluarganya turut menderita. Kita menanggung dosa orang banyak. Luka akibat kezaliman yang telah kita lakukan, telah merebak, menyebar ke pelbagai suasana. Penyebaran luka itu bagaikan kapas-kapas yang telah beterbangan. Sulit untuk recovery.

Kalau saja, kezaliman itu selesai dengan permohonan maaf, akan kacau balaulah hukum yang ada. Kembalikan dulu uang rakyat, baru minta maaf. Kembalikan dulu hak orang-orang yang berhak, baru minta maaf.

Lalu, kezaliman apa yang mungkin kita lakukan di tempat kerja?

Apabila seseorang, menurut kriteria umum, berhak atas suatu kondisi, tetapi kita tidak suka kepadanya karena alasan lain- yang sebenarnya tidak ada hubungan dengan pekerjaan, kita halangi orang itu mendapatkan haknya. Kita memilih orang lain- yang sesuai selera kita, karena ia teman sedesa atau kawan seagama, atau se- lainnya. Kalau kita lakukan itu, ketahuilah, kita telah berbuat zalim. Kita, tentu saja, akan berhadapan dengan hukum Allah. Orang yang kita zalimi, di akhirat kelak, akan menuntut haknya dan –tidak bisa tidak- kita harus membayarnya. Tidak bisa mengelak, sama sekali. Karena pada hari itu, mulut kita dikunci; sedang tangan berbicara dan kaki menjadi saksi. Semua yang kita lakukan semasa di dunia akan diproses verbal, seadil-adilnya: amal baik maupun buruk.

Takutlah kamu akan doa seorang yang terzalimi, karena doa tersebut tidak ada hijab (penghalang) antara dia dengan Allah.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Jauh sebelum itu. Sebelum kiamat terjadi; sebelum mati menghampiri, Nabi Muhammad saw. pernah bersabda, ”Ada dua dua dosa yang akan didahulukan Allah siksanya  di dunia ini juga, yaitu al-baghyu dan durhaka kepada orang tua.” (H.R. Turmudzi, Bukhari, dan Thabrani).

Al-baghyu adalah berbuat sewenang-wenang, berbuat zalim kepada orang lain. Kita tidak perlu khawatir bahwa “ganjaran” karena melakukan al-baghyu, akan disegerakan di dunia ini saja; karena di akhirat pun, kita tak akan luput dari “imbalan”-nya.

Dalam sebuah hadis qudsi Allah berfirman, “Dengan keperkasaan dan keagunganKu, Aku akan membalas orang zalim dengan segera atau dalam waktu yang akan datang. Aku akan membalas terhadap orang yang melihat seorang yang dizalimi sedang dia mampu menolongnya tetapi tidak menolongnya.” (HR. Ahmad)

Seorang kiai bercerita bahwa ketika kita dalam pengadilan Allah, ditanyalah kita tentang apa-apa yang pernah kita perbuat selama di dunia. Setelah semua butir amal sudah selesai dirinci detail, seperti halnya uraian tugas atau manual; Allah tunjukan sebuah benda* yang sangat besar,” Ini adalah pahala besar milik kamu.” Orang itu merasa tidak melakukan amal yang hebat sehingga pahalanya demikian besar. Allah berfirman, ”Dahulu di dunia kamu dizalimi orang, tetapi kamu bersabar. Aku ganti kesabaranmu atas penzaliman orang itu dengan pahala ini.”

*Di akhirat kelak, amal-amal kita akan berwujud dan terlihat mata.

Di akhirat kelak, celakalah orang yang menzalimi. Bahagialah orang yang dizalimi!

 

 

Lain cerita:

Dalam perjalanan Bogor-Jakarta-Bandung, Sabtu kemarin; seorang ibu di sudut utara kota Bogor mengirim sms kepada saya, dan saya membalas beberapa sms-nya.

 

“Ada beberapa anak yatim, perlu biaya sekian juta. Di masjid, kami berkumpul. Selesai ngaji, kami bicarakan bagaimana memenuhi biaya anak-anak itu. Ketua DKM (Dewan Keluarga/Kemakmuran Masjid) keberatan membantu salah satu anak yang usianya menginjak dewasa, karena menurut beliau yang disebut anak yatim adalah anak yang tak punya ayah dan usianya di bawah 10 tahun. Saya sudah tidak punya uang untuk membantu anak itu. Saya bingung, karena pendapat ketua DKM itu.”

 

“Banyak orang memahami fikih secara kaku,” saya mulai menjawab, seolah mengerti agama.

 

“Orang yang memerlukan bantuan, untuk biaya sekolah atau untuk keperluan lainnya, yatim atau pun tidak, harus dibantu. Apalagi, kalau ayahnya, pencari rezeki, sudah tidak ada,” saya melanjutkan.

O ya, ibu itu dengan tetangganya, tinggal di sebuah kompleks perumahan yang rumahnya besar-besar. Rupanya, (sebagian) tetangganya “punya ketelitian yang tinggi” dalam mengeluarkan anggaran.

Ketika seseorang datang kepada kita, meminta bantuan; apakah  perlu kita menanyakan biodatanya dulu? Berapa usia kamu? Apa agamamu? Kamu orang Sunda, ya? SMP-nya dulu, di mana? Maaf, kamu tidak berhak.

Saya mengakhiri dengan sms, ”Jika orang kaya, rutin puasa Senin-Kamis, rajin salat dhuha, dan tiap malam salat tahajud, tetapi tetangganya kelaparan; Tuhan tidak butuh atas puasa dan tahajudnya!”


2 Comments so far
Leave a comment

saya suka kisah di atas td….
dan mmberi saya satu pengajaran…

boleh x kalau saya copy?

Comment by admin

Monggo, silakan….

Comment by Salim




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: