Salim berbagi…. tempat belajar dan berinteraksi….


Tupperware
April 25, 2011, 11:52 PM
Filed under: Belanja yuk..!!

Promo Tupperware April, diskon 15-20% (belum termasuk ongkir). Untuk pemesanan sms ke:08129959569 atau email momkevin08@gmail.com



Berbakti Kepada Orang Tua
April 18, 2011, 12:12 AM
Filed under: Hikmah

BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA

Pada hakekatnya seorang anak harus berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Meski orang tua masih dalam keadaan musyrik mereka tetap mempunyai hak untuk mendapatkan perlakuan yang baik dari anak-anaknya.

Berbuat baik kepada kedua orang tua harus didahulukan daripada fardhu kifayah dan amalan-amalan sunnah lainnya. Berbuat baik kepada kedua orang tua didahulukan daripada berjihad dan hijrah di jalan Allah. Berbuat baik kepada orang tua harus didahulukan dari pada kepada istri dan anak-anak.

Berbuat baik kepada kedua orang tua tidak berarti harus meninggalkan kewajiban terhadap istri dan anak-anaknya. Kewajiban memberikan nafkah kepada istri dan anak-anak tetap dipenuhi walaupun kepada kedua orang tuanya harus didahulukan.

Imam Qurthubi secara umum mengatakan bahwa dalam berbakti kepada kedua orang tua hendaknya seorang anak menyetujui apa yang dikehendaki, diinginkan dan dimaui oleh kedua orang tua. Fudlail bin Iyadl berkata, “Janganlah engkau mencegah apa-apa yang disenangi keduanya” Ketika ditanya bagaimana tentang berbakti kepada kedua orang tua, Fudlail menjawab, “Janganlah engkau melayani kedua orang tuamu dalam keadaan malas”

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dalam hadits shahih yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam kitabnya Al-Adabul Mufrad. Ketika Abu Hurairah ditanya bagaimana berbakti kepada kedua orang tua, ia berkata, “Janganlah engkau memberikan nama seperti namanya, janganlah engkau berjalan dihadapannya, dan janganlah engkau duduk sebelum dia duduk” [1] Artinya, orang tua dipersilahkan duduk terlebih dahulu.

Tidak boleh berbuat baik kepada kedua orang tua dalam bermaksiat kepada Allah. Apabila orang tua menyuruh melakukan sesuatu yang haram atau mencegah dari perbuatan yang wajib, maka tidak boleh ditaati. Bahwa orang yang paling baik untuk kita jadikan teman dan sahabat karib selama-lamanya adalah orang tua sendiri.

Harta yang dimiliki seorang anak pada hakekatnya adalah milik orang tua. Sebagaimana telah datang seseorang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ya Rasulullah, orang tua saya telah mengambil harta saya” kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memarahi orang tersebut dan berkata, “Kamu dan hartamu milik bapakmu” [2]. Berikan kepada orang tua apa yang ada pada kita yang pada hakekatnya adalah milik orang tua. Karena kita bisa berusaha, bekerja dan mendapat gaji, mendapatkan ma’isyah (mata pencaharian), karena sebab orang tua yang melahirkan dan mendidik kita.

Kalau keduanya sudah meninggal, tetap berbuat baik dengan mendo’akan, menyambung tali silaturahmi kepada teman-teman orang tua yang disambung oleh keduanya.

Untuk menjadikan anak shalih berbakti kepada orang tua, bergantung dari pendidikan orang tua terhadap anaknya. Kalau ingin memiliki anak yang berbakti kepada kedua orang tua, tidak boleh meninggalkan pendidikan. Cara mendidiknya supaya menjadi anak yang shalih, anak yang taat kepada Allah dan RasulNya serta taat kepada kedua orang tuanya. Sejak kecil dididik dengan mentauhidkan Allah, diajarkan Al-Qur’an, sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, diajarkan cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga diajarkan tentang shalat.

Seandainya sekarang ini ada anak yang durhaka kepada orang tuanya, kemudian orang tua ini menyesal dan bersedih, mungkin dahulu dia pernah berbuat durhaka kepada orang tuanya sehingga sekarang dibalas oleh anak-anaknya. Ada riwayat yang masih perlu diperiksa, menyebutkan, “Hendaklah kalian berbuat baik kepada orang tua kalian niscaya anak kalian akan berbuat baik kepada kalian” Jadi dengan berbuat baik kepada orang tua, insya Allah anak-anak akan berbuat baik kepadanya. Tetapi kalau durhaka kepada orang tua, anak-anakpun akan durhaka kepadanya.

Hendaklah memperhatikan kedua orang tua seumur hidup dan jangan merasa lelah, capek, maupun letih, dalam berbakti kepada keduanya sebagaimana orang tua kita tidak pernah capek dan letih dalam mengurus kita.

Kalau selama ini pernah durhaka kepada orang tua, segeralah minta ma’af dan berbuat baik kepada keduanya. Jangan mengulangi lagi dan bertaubat dengan taubat yang sesungguhnya baik laki-laki maupun yang perempuan. Mohon ampun dan bertaubat kepada Allah kemudian merubah sikap. Seandainya kedua orang tua sudah meninggal mohon ampun kepada Allah dan mendo’akannya dan bertaubat dengan taubat yang sesungguhnya, menyambung silaturahmi dengan teman-teman kedua orang tua.

Kalau ingin bahagia dan mendapat berkah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan diluaskan rizki serta dipanjangkan umur dan dimudahkan segala urusan, dimasukkan ke dalam surga maka harus terus berbuat baik kepada orang tua. Jangan lupakan semua yang pernah diberikan kedua orang tua karena semua kebaikan mereka tidak dapat dihitung dengan apapun juga.



(Mantan) Aktivis Facebook
April 8, 2011, 6:23 AM
Filed under: CERITA

Source: http://www.eramuslim.com/oase-iman/fatimah-ali-salsabila-mantan-aktivis-facebook.htm

 

Selasa, 05/04/2011 13:53 WIB | email | print

Oleh Fatimah Ali Salsabila

Rima seorang Ibu muda yang baru dikaruniai anak satu yang manis dan lucu baru-baru ini mendapat hadiah dari sang suami tercinta sebuah Blackberry keluaran terbaru. Canggih nian, HP layar sentuh yang sarat dengan teknologi terbaru. Terlalu “wah” sebenarnya untuk ukuran seorang Ibu rumah tangga, tapi karena kemampuan dan kecintaaan suami padanya, maka dihadiahkan HP canggih tersebut, “biar bisa search menu masakan atau update penunjang pendidikan untuk buah hatinya dan biar ga kesepian saat ditinggal kerja,” kira-kira itulah pertimbangan Romi sang suami.

Selengkapnya…Mantan Aktivis Facebook



MENZALIMI ORANG LAIN
April 8, 2011, 2:22 AM
Filed under: Hikmah

Dikisahkan, ada seorang pedagang yang kaya raya dan berpengaruh di kalangan masyarakat. Kegiatannya berdagang mengharuskan dia sering ke luar kota. Suatu saat, karena pergaulan yang salah, dia mulai berjudi dan bertaruh.

Mula-mula kecil-kecilan, tetapi karena tidak dapat menahan nafsu untuk menang dan mengembalikan kekalahannya, si pedagang semakin gelap mata, dan akhirnya uang hasil jerih payahnya selama ini banyak terkuras di meja judi. Istri dan anak-anaknya telantar dan mereka jatuh miskin.

Orang luar tidak ada yang tahu tentang kebiasaannya berjudi, maka untuk menutupi hal tersebut, dia mulai menyebar fitnah, bahwa kebangkrutannya karena orang kepercayaan –sahabatnya- mengkhianati dia dan menggelapkan banyak uangnya. Kabar itu semakin hari semakin menyebar, sehingga sahabat yang setia itu jatuh sakit. Mereka sekeluarga sangat menderita, disorot dengan pandangan curiga oleh masyarakat di sekitarnya dan dikucilkan dari pergaulan.

Si pedagang tidak pernah mengira, dampak perbuatannya demikian buruk. Dia bergegas datang menengok sekaligus memohon maaf kepada si sahabat “Sobat, aku mengaku salah! Tidak seharusnya aku menimpakan perbuatan burukku dengan menyebar fitnah kepadamu. Sungguh, aku menyesal dan minta maaf. Apakah ada yang bisa aku kerjakan untuk menebus kesalahan yang telah kuperbuat?”

Dengan kondisi yang semakin lemah, si sahabat berkata, “Ada dua permintaanku. Pertama, tolong ambillah bantal dan bawalah ke atap rumah. Sesampainya di sana, ambillah kapas dari dalam bantal dan sebarkan keluar sedikit demi sedikit.”

Walaupun tidak mengerti apa arti permintaan yang aneh itu, demi menebus dosa, segera dilaksanakan permintaan tersebut. Setelah kapas habis disebar, dia kembali menemui laki-laki yang sekarat itu.

“Permintaanmu telah aku lakukan, apa permintaanmu yang kedua?”

“Sekarang, kumpulkan kapas-kapas yang telah kau sebarkan tadi,” kata si sahabat dengan suara yang semakin lemah.

Si pedagang terdiam sejenak dan menjawab dengan sedih, “Maaf sobat, aku tidak sanggup mengabulkan permintaanmu ini. Kapas-kapas telah menyebar ke mana-mana, tidak mungkin bisa dikumpulkan lagi.”

“Begitu juga dengan berita bohong yang telah kau sebarkan, berita itu takkan berakhir hanya dengan permintaan maaf dan penyesalanmu saja,” kata si sakit.

Demikian Andrie Wongso berkisah.

 

Kawan,

Kezaliman- apa pun bentuknya- yang telah kita lakukan terhadap seseorang, tidak cukup dengan penyesalan dan permintaan maaf saja. Buah dari kezaliman itu, tidak serta merta berakhir dengan permintaan maaf. Kepedihan yang timbul karenanya, melekat dalam waktu yang lama. Lagi pula, akibat dari perbuatan zalim kita itu, tidak hanya mengenai seorang kawan yang kita zalimi, melainkan juga, keluarganya turut menderita. Kita menanggung dosa orang banyak. Luka akibat kezaliman yang telah kita lakukan, telah merebak, menyebar ke pelbagai suasana. Penyebaran luka itu bagaikan kapas-kapas yang telah beterbangan. Sulit untuk recovery.

Kalau saja, kezaliman itu selesai dengan permohonan maaf, akan kacau balaulah hukum yang ada. Kembalikan dulu uang rakyat, baru minta maaf. Kembalikan dulu hak orang-orang yang berhak, baru minta maaf.

Lalu, kezaliman apa yang mungkin kita lakukan di tempat kerja?

Apabila seseorang, menurut kriteria umum, berhak atas suatu kondisi, tetapi kita tidak suka kepadanya karena alasan lain- yang sebenarnya tidak ada hubungan dengan pekerjaan, kita halangi orang itu mendapatkan haknya. Kita memilih orang lain- yang sesuai selera kita, karena ia teman sedesa atau kawan seagama, atau se- lainnya. Kalau kita lakukan itu, ketahuilah, kita telah berbuat zalim. Kita, tentu saja, akan berhadapan dengan hukum Allah. Orang yang kita zalimi, di akhirat kelak, akan menuntut haknya dan –tidak bisa tidak- kita harus membayarnya. Tidak bisa mengelak, sama sekali. Karena pada hari itu, mulut kita dikunci; sedang tangan berbicara dan kaki menjadi saksi. Semua yang kita lakukan semasa di dunia akan diproses verbal, seadil-adilnya: amal baik maupun buruk.

Takutlah kamu akan doa seorang yang terzalimi, karena doa tersebut tidak ada hijab (penghalang) antara dia dengan Allah.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Jauh sebelum itu. Sebelum kiamat terjadi; sebelum mati menghampiri, Nabi Muhammad saw. pernah bersabda, ”Ada dua dua dosa yang akan didahulukan Allah siksanya  di dunia ini juga, yaitu al-baghyu dan durhaka kepada orang tua.” (H.R. Turmudzi, Bukhari, dan Thabrani).

Al-baghyu adalah berbuat sewenang-wenang, berbuat zalim kepada orang lain. Kita tidak perlu khawatir bahwa “ganjaran” karena melakukan al-baghyu, akan disegerakan di dunia ini saja; karena di akhirat pun, kita tak akan luput dari “imbalan”-nya.

Dalam sebuah hadis qudsi Allah berfirman, “Dengan keperkasaan dan keagunganKu, Aku akan membalas orang zalim dengan segera atau dalam waktu yang akan datang. Aku akan membalas terhadap orang yang melihat seorang yang dizalimi sedang dia mampu menolongnya tetapi tidak menolongnya.” (HR. Ahmad)

Seorang kiai bercerita bahwa ketika kita dalam pengadilan Allah, ditanyalah kita tentang apa-apa yang pernah kita perbuat selama di dunia. Setelah semua butir amal sudah selesai dirinci detail, seperti halnya uraian tugas atau manual; Allah tunjukan sebuah benda* yang sangat besar,” Ini adalah pahala besar milik kamu.” Orang itu merasa tidak melakukan amal yang hebat sehingga pahalanya demikian besar. Allah berfirman, ”Dahulu di dunia kamu dizalimi orang, tetapi kamu bersabar. Aku ganti kesabaranmu atas penzaliman orang itu dengan pahala ini.”

*Di akhirat kelak, amal-amal kita akan berwujud dan terlihat mata.

Di akhirat kelak, celakalah orang yang menzalimi. Bahagialah orang yang dizalimi!

 

 

Lain cerita:

Dalam perjalanan Bogor-Jakarta-Bandung, Sabtu kemarin; seorang ibu di sudut utara kota Bogor mengirim sms kepada saya, dan saya membalas beberapa sms-nya.

 

“Ada beberapa anak yatim, perlu biaya sekian juta. Di masjid, kami berkumpul. Selesai ngaji, kami bicarakan bagaimana memenuhi biaya anak-anak itu. Ketua DKM (Dewan Keluarga/Kemakmuran Masjid) keberatan membantu salah satu anak yang usianya menginjak dewasa, karena menurut beliau yang disebut anak yatim adalah anak yang tak punya ayah dan usianya di bawah 10 tahun. Saya sudah tidak punya uang untuk membantu anak itu. Saya bingung, karena pendapat ketua DKM itu.”

 

“Banyak orang memahami fikih secara kaku,” saya mulai menjawab, seolah mengerti agama.

 

“Orang yang memerlukan bantuan, untuk biaya sekolah atau untuk keperluan lainnya, yatim atau pun tidak, harus dibantu. Apalagi, kalau ayahnya, pencari rezeki, sudah tidak ada,” saya melanjutkan.

O ya, ibu itu dengan tetangganya, tinggal di sebuah kompleks perumahan yang rumahnya besar-besar. Rupanya, (sebagian) tetangganya “punya ketelitian yang tinggi” dalam mengeluarkan anggaran.

Ketika seseorang datang kepada kita, meminta bantuan; apakah  perlu kita menanyakan biodatanya dulu? Berapa usia kamu? Apa agamamu? Kamu orang Sunda, ya? SMP-nya dulu, di mana? Maaf, kamu tidak berhak.

Saya mengakhiri dengan sms, ”Jika orang kaya, rutin puasa Senin-Kamis, rajin salat dhuha, dan tiap malam salat tahajud, tetapi tetangganya kelaparan; Tuhan tidak butuh atas puasa dan tahajudnya!”



Nasihat Para Salaf Bagi Umat Islam tentang keutamaan menuntut Ilmu
April 1, 2011, 8:02 AM
Filed under: Hikmah

Pertama: Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Ilmu itu lebih baik daripada harta, ilmu akan menjagamu sedangkan harta kamulah yang akan menjaganya. Ilmu itu hakim (yang memutuskan berbagai perkara) sedangkan harta adalah yang dihakimi. Telah mati para penyimpan harta dan tersisalah para pemilik ilmu, walaupun diri-diri mereka telah tiada akan tetapi pribadi-pribadi mereka tetap ada pada hati-hati manusia.”

Kedua: Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau apabila melihat para pemuda giat mencari ilmu, beliau berkata: “Selamat datang wahai sumber-sumber hikmah dan para penerang kegelapan. Walaupun kalian telah usang pakaiannya akan tetapi hati kalian tetap baru. Kalian tinggal di rumah-rumah (untuk mempelajari ilmu), kalian adalah kebanggaan setiap kabilah.”
Yakni bahwasanya sifat mereka secara umum adalah sibuk dengan mencari ilmu dan tinggal di rumah dalam rangka untuk mudzaakarah (mengulang pelajaran yang telah didapatkan) dan mempelajarinya. Semuanya ini menyibukkan mereka dari memperhatikan berbagai macam pakaian dan kemewahan dunia secara umum demikian juga hal-hal yang tidak bermanfaat atau yang kurang manfaatnya dan hanya membuang waktu belaka seperti berputar-putar di jalan-jalan (mengadakan perjalanan yang kurang bermanfaat atau sekedar jalan-jalan tanpa tujuan yang jelas) sebagaimana yang biasa dilakukan oleh selain mereka dari kalangan para pemuda.

Ketiga: Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Pelajarilah oleh kalian ilmu, mencarinya adalah ibadah; mempelajarinya dan mengulangnya adalah tasbiih; membahasnya adalah jihad; mengajarkannya kepada yang tidak mengetahuinya adalah shadaqah; memberikannya kepada keluarganya adalah pendekatan diri kepada Allah; karena ilmu itu menjelaskan perkara yang halal dan yang haram; menara jalan-jalannya ahlul jannah, dan ilmu itu sebagai penenang di saat was-was dan bimbang; yang menemani di saat berada di tempat yang asing; dan yang akan mengajak bicara di saat sendirian; sebagai dalil yang akan menunjuki kita di saat senang dengan bersyukur dan di saat tertimpa musibah dengan sabar; senjata untuk melawan musuh; dan yang akan menghiasainya di tengah-tengah sahabat-sahabatnya.
Dengan ilmu tersebut Allah akan mengangkat kaum-kaum lalu menjadikan mereka berada dalam kebaikan, sehingga mereka menjadi panutan dan para imam; jejak-jejak mereka akan diikuti; perbuatan-perbuatan mereka akan dicontoh serta semua pendapat akan kembali kepada pendapat mereka. Para malaikat merasa senang berada di perkumpulan mereka; dan akan mengusap mereka dengan sayap-sayapnya; setiap makhluk yang basah dan yang kering akan memintakan ampun untuk mereka, demikian juga ikan yang di laut sampai ikan yang terkecilnya, dan binatang buas yang di daratan dan binatang ternaknya (semuanya memintakan ampun kepada Allah untuk mereka). Karena sesungguhnya ilmu adalah yang akan menghidupkan hati dari kebodohan dan yang akan menerangi pandangan dari berbagai kegelapan. Dengan ilmu seorang hamba akan mencapai kedudukan-kedudukan yang terbaik dan derajat-derajat yang tinggi baik di dunia maupun di akhirat.

Keempat: Dari ‘Umar Ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Sesungguhnya seseorang keluar dari rumahnya dalam keadaan dia mempunyai dosa-dosa seperti gunung Tihamah, akan tetapi apabila dia mendengar ilmu (yaitu mempelajari ilmu dengan menghadiri majelis ilmu), kemudian dia menjadi takut, kembali kepada Rabbnya dan bertaubat, maka dia pulang ke rumahnya dalam keadaan tidak mempunyai dosa. Oleh karena itu, janganlah kalian meninggalkan majelisnya para ulama

Kelima: Berkata Abud Darda` radhiyallahu ‘anhu: “Sungguh aku mempelajari satu masalah dari ilmu lebih aku cintai daripada shalat malam.” (Ibid. 1/122)
Bukan berarti kita meninggalkan shalat malam, akan tetapi ini menunjukkan bahwa mempelajari ilmu itu sangat besar keutamaannya dan manfaatnya bagi ummat.

Keenam: Dari Al-Hasan Al-Bashriy rahimahullaah, beliau berkata: “Sungguh aku mempelajari satu bab dari ilmu lalu aku mengajarkannya kepada seorang muslim di jalan Allah (yaitu mempelajari dan mengajarkannya karena Allah semata) lebih aku cintai daripada aku mempunyai dunia seluruhnya.” (Al-Majmuu’ Syarh Al-Muhadzdzab, karya Al-Imam An-Nawawiy, 1/21)

Ketujuh: Dari Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullaah, beliau berkata: “Tidak ada sesuatupun yang lebih utama setelah kewajiban-kewajiban daripada menuntut ilmu.” (Ibid. 1/21)

Adapun bait-bait sya’ir yang menjelaskan tentang permasalahan ilmu dan kedudukannya itu sangat banyak dan tidak bisa dihitung, dan di sini hanya akan disebutkan dua di antaranya:
“Tidak ada kebanggaan kecuali bagi ahlul ilmi (orang-orang yang berilmu) karena sesungguhnya mereka berada di atas petunjuk bagi orang yang meminta dalil-dalilnya dan derajat setiap orang itu sesuai dengan kebaikannya (dalam masalah ilmu) sedangkan orang-orang yang bodoh adalah musuh bagi ahlul ilmi.”

Dan sya’irnya Al-Imam Asy-Syafi’i:

تَعَلَّمْ فَلَيْسَ الْمَرْءُ يُوْلَدُ عَالِمًا وَلَيْسَ أَخُوْ عِلْمٍ كَمَنْ هُوَ جَاهِلُ
وَإِنَّ كَبِيْرَ الْقَوْمِ لاَ عِلْمَ عِنْدَهُ صَغِيْرٌ إِذَا الْتَفَّتْ عَلَيْهِ الْجَحَافِلُ
وَإِنَّ صَغِيْرَ الْقَوْمِ إِنْ كَانَ عَالِمًا كَبِيْرٌ إِذَا رُدَّتْ إِلَيْهِ الْمَحَافِلُ

“Belajarlah karena tidak ada seorangpun yang dilahirkan dalam keadaan berilmu, dan tidaklah orang yang berilmu seperti orang yang bodoh. Sesungguhnya suatu kaum yang besar tetapi tidak memiliki ilmu maka sebenarnya kaum itu adalah kecil apabila terluput darinya keagungan (ilmu). Dan sesungguhnya kaum yang kecil jika memiliki ilmu maka pada hakikatnya mereka adalah kaum yang besar apabila perkumpulan mereka selalu dengan ilmu.”

Disadur dari kitab Aadaabu Thaalibil ‘Ilmi hal.18-22, Wallaahul Muwaffiq, Wallaahu A’lam.